CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>> JELAJAH Nusantara Keraton Yogyakarta Sarat Dengan Nilai Budaya dan Adat Jawa

Keraton Yogyakarta Sarat Dengan Nilai Budaya dan Adat Jawa

Tak lengkap rasanya bila Anda yang pergi ke Yogyakarta namun tak berkunjung untuk melihat megahnya Keraton Yogyakarta yang merupakan istana resmiĀ  Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bangunan ini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.

alt

Ya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga sekarang. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Pendirian Keraton ini sendiri dicetuskan oleh Sultan Hamengku Buwono pertama sekitar tahun 1755 dan dilakukan setelah Perjanjian Giyanti. Ada dua versi pendirian kraton ini yaitu yang pertama, Sultan Hamengku Buwono mendirikan Keraton Yogyakarta di bekas sebuah pesanggrahan. Pesanggrahan merupakan tempat istirahat rombongan jenazah raja-raja Mataram, yaitu wilayah Kartasura dan Surakarta. Jika raja tersebut akan dimakamkan di Imogiri, pasti para pengantar akan melewati pesanggrahan ini. Pesanggrahan tersebut diberi nama Garjitawati. Versi berikutnya menyebutkan bahwa, kraton ini didirikan di atas sebuah mata air di tengah Hutan Beringan yang dinamakan Umbul Pacethokan.

Arsitek kepala pada istana ini adalah Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda, Theodoor Gautier Thomas Pigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya sebagai arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta. Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari keraton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain di tambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta berikutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahta tahun 1921-1939).

alt

Bangunan keraton yang megah ini memiliki tujuh kompleks bangunan yang merupakan inti dari kesultanan, yaitu sebagai berikut:

  • Balairung Utara yang dinamakan Siti Hinggil Ler.
  • Kamandhungan Utara atau Kamandhungan Ler.
  • Sri Manganti.
  • Kedhaton.
  • Kamagangan.
  • Kamandhungan Selatan atau dengan nama lain Kamandhungan Kidul.
  • Balairung Selatan dengan nama Siti Hinggil Kidul.

Kompleks satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regoldengan desain bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas. Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional.

Di beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks berkonstruksi Joglo atau derivasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dinding disebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup dinding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada bangunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiang bambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya bangunan ini beratap seng dan bertiang besi.

Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya terbuat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanya berwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang oleh tiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang berada di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah, dan emas. Untuk bagian bangunan lainnya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada dengan warna pada tiang.

Untuk batu alas tiang, Ompak, berwarna hitam dipadu dengan ornamen berwarna emas. Warna putih mendominasi dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks. Lantai terbuat dari batu pualam putih atau dari ubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari halaman berpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utama yang lebih tinggi. Pada bangunan tertentu dilengkapi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempat menempatkan singgasana Sultan.

alt

Tiap-tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya. Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakan oleh Sultan dalam kapasitas jabatannya, memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan dengan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunan maka ornamen semakin sederhana bahkan tidak memiliki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas bangunan juga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau keseluruhan dari bangunan itu sendiri.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang bangunan Keraton Yogyakarta, Anda bisa datang langsung dan nikmati kemegahan bangunan yang sarat dengan nilai budaya dan adat jawa yang kental tersebut.

Add comment

Security code
Refresh